PERMASALAHAN SISTEM PEMERNTAHAN DI INDONESIA
oleh : Dalija, S.IP., M.Si
Mantan
Presiden Soeharto ditempatkan sebagai Presiden terkorup sedunia berdasarkan
temuan Transparency International
2004 dengan total perkiraan korupsi sebesar 15-25 miliar dolar AS.”
Dari berbagai
kasus korupsi yang dilakukan oleh beliau, dituliskan salah satu kasus korupsi
yang berhubungan dengan dana “Reboisasi Departemen Kehutanan” serta pos bantuan
presiden. Dana tersebut digunakan untuk membiayai tujuh yayasan milik beliau.
Sebagai representatif lembaga legislatif, MPR pun merenspons masalah ini
dengan statement pada Pasal 4 Ketetapan MPR No XI Tahun 1998 tentang
Penyelenggaraan Negara Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Di situ, disebut
secara jelas bahwa “Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, nepotisme harus
dilakukan secara tegas terhadap siapa pun juga, baik pejabat negara, mantan
pejabat negara, keluarga, dan kroninya. maupun pihak swasta/konglomerat
termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga
tak bersalah dan hak-hak asasi manusia”.
Pada tahun 2009, berdasarkan keputusan MA, Yayasan Supersemar akan
dihukum mengganti kerugian negara sebesar 315.002.183 US dolar dan Rp
139.229.178 atau sekitar Rp 3,07 triliun.
Bagaimana
Masalah ini Mengancam Kedaulatan?
Dengan
permasalahan ini, tentu dapat menjadi salah-satu pengancam kedaulatan
Indonesia. Dengan kelakuan seorang presiden yang menghisap uang negara, bukan
hanya hal itu akan berdampak buruk pada ekonomi. Hal ini juga akan berdampak
kepada kepercayaan masyarakat akan pemerintahan Indonesia. United Overseas Bank
menyatakan dalam salah satu slogannya bahwa “trust is the world’s strongest
currency”(2) yang bisa diartikan menjadi “kepercayaan merupakan mata uang
paling berharga”. Kalimat ini memiliki 2 poin. Pertama, kepercayaan tidak bisa
dibeli dengan uang. Kedua, dalam subjek ekonomi, mata uang biasa pasti bisa
fluktuasi seiring dengan waktu. Namun, “trust” tidak mengalami fluktuasi
seiring waktu, tetapi akan menjadi semakin kuat.
Artinya, sekaya
apapun sebuah negara, tidak akan bertahan kedaulatannya jika masyarakatnya pun
tidak memberikan kepercayaan pada pemerintahnya. Apalagi negara yang uangnya
telah dihisap, pasti akan lebih parah. Tanpa kepercayaan, kericuhan dan unjuk
rasa akan semakin sering terjadi, serta perpecahan negara akan menjadi mungkin.
Solusi
Salah satu
solusi yang dapat dilakukan dalam masalah ini adalah untuk meningkatkan
transparensi kinerja check and balance pemerintah dengan cara melakukan
pengecekan & expose oleh media dalam rangka waktu tertentu. Saya juga
menawarkan solusi untuk mendirikan sebuah badan dalam pemerintah yang memiliki
koneksi langsung dengan media masyarakat. Solusi ini bisa dianalogikan dengan
sebuah Tim Sukses Gubernur. Dalam sebuah timses, terdapat beberapa divisi
(logistik, statistik, dll). Salah satunya adalah divisi media. Saya bersyukur
karena memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat tersebut. Dalam kantor
divisi media, terdapat banyak televisi dan radio menayangkan berita-berita
terkini. Divisi ini merupakan indra pengelihatan dan pendengaran dari Tim
Sukses tersebut. Tanpa divisi ini, komunitas tersebut bisa dibilang “buta”.
Sama seperti sebuah negara. Tanpa kolaborasi media dalam pemerintahan,
masyarakat bisa dibilang “buta” akan segala kebohongan dari pemerintah.
Hal ini mungkin
belum tentu efektif, akan tetapi merupakan langkah yang sesuai dalam
menciptakan sebuah negara yang didasari teori “perjanjian masyarakat”. Teori
ini sangat relevan dengan sistem politik Indonesia yang bersifat demokratis.
Dengan mengimplementasikan solusi-solusi ini, setidaknya memberikan masyarakat
peran penting dalam mengawasi kinerja pemerintah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar